Yakobus 1:19-20 Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah; sebab amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah.
Amarah adalah suatu sikap yang muncul dari dalam diri seseorang sebagai reaksi spontan atas suatu tekanan/serangan yang dialaminya, baik tekanan/serangan secara fisik maupun secara mental psikologi. Sesabar-sabarnya manusia namun ia pasti punya batas kesabaran. Ketika serangan/tekanan itu melebihi dari batas-batas kesabarannya maka reaksi yang timbul adalah amarah. Tindakan selanjutnya yang mungkin terjadi adalah tergantung dari besar kecilnya tingkat tekanan amarah yang menguasai orang tersebut. Semakin besar tingkat tekanan amarah maka semakin tidak terkendali pula tindakannya.
Amarah adalah suatu celah yang paling sering dimanfaatkan oleh Iblis untuk masuk dan menguasai manusia. Sering terjadi perkelahian dan pembunuhan akibat dari amarah. Bahkan dalam beberapa kesempatan saya pernah melihat seorang yang sangat marah dimana puncak dari kemarahannya adalah ia mengalami kerasukan roh-roh jahat. Itulah sebabnya mengapa Paulus mengingatkan kepada Jemaat Efesus untuk tidak menyimpan amarah. Karena amarah adalah celah yang lebar bagi iblis untuk masuk dan menguasai.
Efesus 4:26-27 Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu dan janganlah beri kesempatan kepada Iblis.
Kita perhatikan pada ayat pembuka diatas, dikatakan bahwa amarah tidak mengerjakan kebenaran dihadapan Allah. Benar! Karena amarah akan membuat buta mata hati, tidak tenang dan tidak bisa berpikir jernih yang tentunya hal ini mengakibatkan orang yang bersangkutan tidak bisa berdoa (I Petrus 4:7). Bahkan buahnya cenderung mengarah kepada kejahatan semata.
Musa adalah seorang yang sangat lembut hatinya, bahkan orang yang paling lembut di dunia pada masanya (Bilangan 12:3). Ketika Harun dan Miryam kakaknya memberontak dan mengata-ngatainya Musa hanya diam. Namun sesabar-sabarnya Musa, suatu ketika bisa kehilangan kesabaran juga. Musa marah dan dalam kemarahannya itu Musa jatuh dalam dosa yaitu melanggar perintah Tuhan. Akibatkan dia tidak Tuhan ijinkan memasuki tanah perjanjian. Kejatuhan Musa diawali oleh sungut-sungut bangsa Israel karena tidak ada air. Musa membawa perkara itu kepada Tuhan dan Tuhan memberi perintah kepadanya untuk melakukan seperti pada ayat di bawah :
"Ambillah tongkatmu itu dan engkau dan Harun, kakakmu, harus menyuruh umat itu berkumpul; katakanlah di depan mata mereka kepada bukit batu itu supaya diberi airnya; demikianlah engkau mengeluarkan air dari bukit batu itu bagi mereka dan memberi minum umat itu serta ternaknya." (Bilangan 20:8)
Namun ketika Musa kembali berhadapan dengan orang Israel emosinya kembali terpancing. Akibat emosi itu, Musa lupa apa yang telah di perintahkan Tuhan kepadanya. Dia tidak melakukan persis apa yang diperintahkan. Sebaliknya dengan emosi dia marah sambil memukul bukit batu dengan tongkatnya. Lebih jelasnya kita perhatikan ayat dibawah:
Bilangan 20:10-11 Ketika Musa dan Harun telah mengumpulkan jemaah itu di depan bukit batu itu, berkatalah ia kepada mereka: "Dengarlah kepadaku, hai orang-orang durhaka, apakah kami harus mengeluarkan air bagimu dari bukit batu ini?" Sesudah itu Musa mengangkat tangannya, lalu memukul bukit batu itu dengan tongkatnya dua kali, maka keluarlah banyak air, sehingga umat itu dan ternak mereka dapat minum.
Saudaraku, ada beberapa point yang dapat kita ambil sebagai pelajaran dari kisah ini, yaitu:
Pertama, amarah cenderung membawa kita kepada kejahatan, setidaknya kejahatan yang paling umum terjadi adalah caci maki dan ejekan. Kemarahan membuat mulut kita tidak terkendali, makanya tidak heran orang yang di kuasai amarah akan mengeluarkan kata-kata sepedas dan sekotor mungkin. Ujung-ujung dari semuanya itu tidak jarang mengarah kepada pembunuhan, baik berupa pembunuhan secara fisik maupun secara karakter.
Kedua, amarah membuat kita tidak bisa tenang. Orang yang tidak tenang tidak akan pernah bisa berdoa.
Ketiga, amarah adalah celah bagi iblis untuk masuk dan menguasai. Ketika seorang pembunuh di wawancarai acapkali mereka berkata bahwa sebenarnya dia tidak ingin melakukan itu. Tidak jarang terjadi mereka melakukan itu dalam kondisi yang tidak sadar karena emosi. Setelah emosi mereda barulah mereka sadar dan menyesal. Itulah pekerjaan Iblis, Iblis memanfaatkan emosi mereka untuk melakukan suatu hal yang sebenarnya tidak ingin mereka lakukan.
Keempat, amarah membuat kita tidak ingat akan firman Tuhan. Seperti yang di alami oleh Musa seperti yang telah dijelaskan diatas. Zaman sekarang hal ini masih terjadi, amarah sering membuat sepasang suami istri Kristen mengambil keputusan bercerai, mereka tidak ingat bahwa Tuhan sangat membenci perceraian. Mengenai hal ini dapat kita lihat pada ayat dibawah:
Maleakhi 2:16 Sebab Aku membenci perceraian, firman TUHAN, Allah Israel -- juga orang yang menutupi pakaiannya dengan kekerasan, firman TUHAN semesta alam. Maka jagalah dirimu dan janganlah berkhianat!
Matius 19:6 Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia."
Oleh sebab itu berhati-hatilah. Kendalikan diri, jangan sampai amarah yang mengendalikan kita. Karena bila itu terjadi maka hal-hal yang tidak terdugapun bisa terjadi. Jangan beri kesempatan kepada Iblis untuk masuk dan menguasai kita. Buanglah segala amarah, karena amarah adalah ciri-ciri orang yang masih hidup dalam manusia lama. Saya katakan demikian bukan berarti kita tidak boleh marah, tetapi kalaupun kita marah janganlah berlarut-larut dan jangan biarkan amarah itu yang menguasai kita.
Efesus 4:26 Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu.
Musa adalah seorang yang sangat lembut hatinya, bahkan orang yang paling lembut di dunia pada masanya (Bilangan 12:3). Ketika Harun dan Miryam kakaknya memberontak dan mengata-ngatainya Musa hanya diam. Namun sesabar-sabarnya Musa, suatu ketika bisa kehilangan kesabaran juga. Musa marah dan dalam kemarahannya itu Musa jatuh dalam dosa yaitu melanggar perintah Tuhan. Akibatkan dia tidak Tuhan ijinkan memasuki tanah perjanjian. Kejatuhan Musa diawali oleh sungut-sungut bangsa Israel karena tidak ada air. Musa membawa perkara itu kepada Tuhan dan Tuhan memberi perintah kepadanya untuk melakukan seperti pada ayat di bawah :
"Ambillah tongkatmu itu dan engkau dan Harun, kakakmu, harus menyuruh umat itu berkumpul; katakanlah di depan mata mereka kepada bukit batu itu supaya diberi airnya; demikianlah engkau mengeluarkan air dari bukit batu itu bagi mereka dan memberi minum umat itu serta ternaknya." (Bilangan 20:8)
Namun ketika Musa kembali berhadapan dengan orang Israel emosinya kembali terpancing. Akibat emosi itu, Musa lupa apa yang telah di perintahkan Tuhan kepadanya. Dia tidak melakukan persis apa yang diperintahkan. Sebaliknya dengan emosi dia marah sambil memukul bukit batu dengan tongkatnya. Lebih jelasnya kita perhatikan ayat dibawah:
Bilangan 20:10-11 Ketika Musa dan Harun telah mengumpulkan jemaah itu di depan bukit batu itu, berkatalah ia kepada mereka: "Dengarlah kepadaku, hai orang-orang durhaka, apakah kami harus mengeluarkan air bagimu dari bukit batu ini?" Sesudah itu Musa mengangkat tangannya, lalu memukul bukit batu itu dengan tongkatnya dua kali, maka keluarlah banyak air, sehingga umat itu dan ternak mereka dapat minum.
Saudaraku, ada beberapa point yang dapat kita ambil sebagai pelajaran dari kisah ini, yaitu:
Pertama, amarah cenderung membawa kita kepada kejahatan, setidaknya kejahatan yang paling umum terjadi adalah caci maki dan ejekan. Kemarahan membuat mulut kita tidak terkendali, makanya tidak heran orang yang di kuasai amarah akan mengeluarkan kata-kata sepedas dan sekotor mungkin. Ujung-ujung dari semuanya itu tidak jarang mengarah kepada pembunuhan, baik berupa pembunuhan secara fisik maupun secara karakter.
Kedua, amarah membuat kita tidak bisa tenang. Orang yang tidak tenang tidak akan pernah bisa berdoa.
Ketiga, amarah adalah celah bagi iblis untuk masuk dan menguasai. Ketika seorang pembunuh di wawancarai acapkali mereka berkata bahwa sebenarnya dia tidak ingin melakukan itu. Tidak jarang terjadi mereka melakukan itu dalam kondisi yang tidak sadar karena emosi. Setelah emosi mereda barulah mereka sadar dan menyesal. Itulah pekerjaan Iblis, Iblis memanfaatkan emosi mereka untuk melakukan suatu hal yang sebenarnya tidak ingin mereka lakukan.
Keempat, amarah membuat kita tidak ingat akan firman Tuhan. Seperti yang di alami oleh Musa seperti yang telah dijelaskan diatas. Zaman sekarang hal ini masih terjadi, amarah sering membuat sepasang suami istri Kristen mengambil keputusan bercerai, mereka tidak ingat bahwa Tuhan sangat membenci perceraian. Mengenai hal ini dapat kita lihat pada ayat dibawah:
Maleakhi 2:16 Sebab Aku membenci perceraian, firman TUHAN, Allah Israel -- juga orang yang menutupi pakaiannya dengan kekerasan, firman TUHAN semesta alam. Maka jagalah dirimu dan janganlah berkhianat!
Matius 19:6 Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia."
Oleh sebab itu berhati-hatilah. Kendalikan diri, jangan sampai amarah yang mengendalikan kita. Karena bila itu terjadi maka hal-hal yang tidak terdugapun bisa terjadi. Jangan beri kesempatan kepada Iblis untuk masuk dan menguasai kita. Buanglah segala amarah, karena amarah adalah ciri-ciri orang yang masih hidup dalam manusia lama. Saya katakan demikian bukan berarti kita tidak boleh marah, tetapi kalaupun kita marah janganlah berlarut-larut dan jangan biarkan amarah itu yang menguasai kita.
Efesus 4:26 Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu.
Tuhan Yesus memberkati. Amin
