Selasa, 26 Oktober 2010

ARAH KEDEWASAAN IMAN DAN PRIBADI, SEBAGAI PENGIKUT KRISTUS DALAM PERWUJUDANNYA MELAKSANAKAN KERAJAAN ALLAH

Dewasa secara iman....?
Dewasa secara pribadi...?
Apakah merasa sudah menjadi Dewasa...?
Apa sih ciri-ciri orang Dewasa...?
Apakah cukup dengan kata-kata yang bijaksana ?
Apakah cukup dengan penampilan yang kebapaan atau keibuan ?
Kemampuan apa yang dibutuhkan seseorang untuk disebut sebagai yang telah dewasa ?
Bagaimanakah konkretnya kedewasaan itu...?


Sekedar untuk melihat dan meneliti kedewasaan, dalam dimensi-dimensinya dan kebebasan efektif :


1. KEMAMPUAN UNTUK MENERIMA KENYATAAN

Seseorang termasuk dewasa apabila ia terbuka untuk mengetahui dan menerima dirinya dan orang lain, karena ia mempunyai keyakinan diri dan sekedar kepastian untuk berpijak pada kakinya sendiri tanpa terombang-ambing oleh bermacam-macam pengaruh yang melanda dirinya. Ia memiliki semacam Intregrasi pribadi.
Hal ini dapat kita lihat dalam contoh perilaku seperti sebagai berikut :
Tidak menyangkal atau menyembunyikan kelemahan sendiri dan kelemahan orang lain. Akan tetapi dapat memahami dan menerimanya. Atas dasar sikap seperti ini, ia akan mampu membedakan antara SEMANGAT, CITA-CITA dan SPIRITUALITAS (tentang SPIRITUALITAS sudah dibahas pada catatan terdahulu).
Tidak meremehkan masalah atau mengesampingkan persoalan yang dihadapi, apalagi meninggalkan atau melarikan diri dari persoalan, untuk kemudian mencari kompensasi dengan pura-pura akitf atau malah sebaliknya menjadi malas dan acuh tak acuh. Ia tidak melemparkan masalah pada orang lain, atau mempersalahkan lingkungan sekitarnya dan mencari kambing hitam.(Penghayatan Panggilan Hidup Terhadap Diri Sendiri dan Sesama)

2. MENERIMA DAN MENGHAYATI APA YANG BERNILAI
Sebagai orang beriman kepada Tuhan, Menerima dan menghayati APA yang bernilai, yang dalam hal ini adalah penghayatan iman kepada Tuhan dan panggilan hidup , menjadi salah satu ciri dari sikap kedewasaan. Mengapa ?
Sebagai insan beriman, yang benar-benar berani menerima dan menghayati nilai-nilai hidup rohani dan menghayatinya demi Kristus dan bukan demi keuntungan diri sendiri, pembelaan nama sendiri, atau sekedar menunjukkkan kesalehan dan kesucian didepan publik. Karena Kristus dengan kehendak-NYA, adalah penting dalam kehidupan beriman, maka ia menerima dan berusaha mengintegrasikan dorongan-dorongan kebutuhan psikologisnya kedalam nilai-nilai dan sikap hidup. Kehendaknya mampu mengendalikan kebutuhan psikologis yang mengancam panggilan hidupnya. Sejauh mungkin ia mengendalikan kebutuhan prsikologis yang menghambat panggilan hidupnya demi kebaikan dan kualitas hubungan vertikal dengan Tuhan. (Penghayatan Panggilan Hidup Pribadi dengan Tuhan).

3. FOKUS UNTUK MENGHAYATI NILAI-NILAI YANG DIYAKINI DAN DITERAPKAN DALAM HIDUP
Kefokusan ini menggambarkan bahwa kata-katanya dalam setiap aspek kehidupan bukanlah omnong kosong belaka namun didukung oleh penghayatan dan kesaksian hidupnya. Ada keseimbangan antara apa yang dikatakan dan dihayati dalam hidupnya. Oleh karena itu, ia dapat dapat mengendalikan ketegangan yang mungkin terjadi dalam mengambil dan melaksanakan keputusan. Mampu bertoleransi terhadap ketidakpastian dalam mencapai tujuan dan cita-cita hidup. Tekun dalam mewujudkan nilai-nilai yang diyakini atas dasar pengalaman rohaninya, meskipun sekilas tampaknya sangat sulit untuk dijangkau.
Siapakah yang merasa sudah mengerti betul tentang Jejak Kristus secara Konsekuen ?
Bila kehendak Kristus itu senada dengan kehendak dan keinginan kita sendiri, barangkali kita akan dapat melaksanakannya dengan mudah. Namun seringnya kehendak Kristus justru menuntut kita untuk menyangkal diri kita. Ironis memang, namun demikianlah Kristus.


4. TIDAK CENDERUNG MENGORBANKAN NILAI DAN PRINSIP
Kondisi ini mengjelaskan pada kita untuk bertindak fleksibel, dalam membela nilai-nilai Kristus dalam arti bahwa ia tidak agresif dan terlalu fanatik dalam membela diri kemudian menghindari tanggung jawab. Ia justru lebih peka terhadap perasaan orang lain dan lebih terbuka untuk mencari jalan keluar bersama sesama, mengingat keterbatasan diri dan keterbatasan sesama.
Ia mengerti bahwa Kerajaan Allah harus dilaksanakan, akan tetapi ia juga tahu bahwa manusia juga dihinggapi oleh kerapuhan dan dosa, yang dapat menghambat perwujudan Kerajaan Allah. Kondisi manusia yang rapuh dan penuh dosa, tidak lantas membuatnya putus asa, tetapi terus maju mengandalkan Rahmat Tuhan.

5. MEMILIKI CINTA YANG TIDAK EGOIS
Artinya Cinta yang melampaui kepentingan pribadi dan tidak menuntut apa-apa untuk pribadinya. Kondisi ini memungkinkan kita untuk tidak mudah frustasi andaikanta cintanya tidak berbalas dan tidak ditanggapi secara memuaskan dan tidak mendatangkan kepuasan hati. Dengan kata lain adalah Cinta tanpa pamrih. Cinta tanpa pamrih selalu menomorsatukan nilai cintakasih Kristus. Hal ini berarti cinta itu bukanlah semata-mata digerakkan oleh dorongan psikologis contohnya untuk menyayangi dan memperhatikan sesama. Juga bukan cinta yang diberikan untuk mendapat keuntungan bagi dirinya sendiri, dan bukan cinta kasih yang menuntut orang lain untuk memperhatikan dirinya sendiri sehingga hidupnya diakui sebagai orang yang memberikan cinta.

6. SIKAP REALISTIS
Berhubungan dengan pelaksanaan nilai dan sikap hidup. Orang yang memilikinya akan tahu bagaimana membedakan mana yang hakiki dan yang tidak. Mana fakta mana prinsip. Ia dapat membedakan faktual dan prinsipal. Ia juga tahu kapan harus diam dan kapan harus berbicara. Menonjolkan diri bukanlah suatu tujuan. Pengakuan dari komunitas bukanlah satu pandangan, melainkan warta Yesus Kristus yang didukung oleh kesaksian hidup, tidak kurang dan tidak lebih. Sikap ini bukanlah penggerogotan terhadap nilai-nilai Kristus.

7. MAMPU MEMPERCAYAI ORANG LAIN
Inilah sikap dasar yang muncul dari kepercayaan terhadap diri sendiri. Orang semacam ini akan mampu hidup bersama tanpa kegelisahan dan tanpa kekerasan/ kemarahan yang tidak perlu apalagi kekejaman.
Ia merasa bebas untuk memberi dan menerima dari hidup bersama yang semakin memperkaya kepribadiannya sendiri sehingga tidak mendominasi dan merendahkan orang lain.(Pemahaman prinsip dasar "Manusia diciptakan sesuai dengan gambar dan rupa Allah"="Manusia Makhluk mulia yang serupa dengan Allah namun juga makhluk yang tidak lepas dari dosa dan kesalahan").

8. MEMILIKI KEPERCAYAAN DAN KEYAKINAN PADA DIRI SENDIRI
Tidak hanya dalam hal yang sudah dialaminya dan mendatangkan keberhasilan bagi hidupnya, tetapi juga terhadap hal-hal yang sedang diusahakan. Dalam kondisi gagal, ia memiliki semangat pembaharuan terus menerus sebelum persoalan baru datang kemudian. Tidak berhenti dengan pertobatan dan pembaharuan hidup. Siap dengan pertobatan ketika hidupnya kurang sesuai dengan nilai-nilai yang diyakininya dan berusaha membaharui diri sejauh mungkin atas dasar rahmat Allah dan kemampuan diri sendiri.

9. RELASI SOSIAL YANG BERCIRIKAN "DEPENDIBILITY"
Artinya dalam hidup bersama komunitas, ia bukanlah seorang yang tergantung (dependent) atau juga terlalu mandiri (independent). Berarti ia tidak tergantung dan tidak juga mandiri semata-mata seolah hanya dia seorang yang sanggup (single-fighter).
Sikap ini dapat terlihat misalnya :
Kemampuan untuk mengambil keputusan dan bertanggung jawab meskipun tidak ada orang lain yang membantu.
Mampu menyesuaikan diri dengan orang lain tanpa merasa terancam atau merasa diri lebih unggul.
Mampu mengambil keputusan juga pada saat ada orang lain yang membantu, karena orang lain tidak dianggap sebagai penghalang atau pembatas kebebasan.
Memiliki kepekaan untuk menentukan diri atas dasar pertimbangan obyektif tentang dirinya sendiri dan atas dasar pertimbangan dari yang lain.

10. MAMPU MEMBATHINKAN NILAI PANGGILAN HIDUP
Kedewasaan berarti menerima iman dan kepercayaan karena yang sesuai dengan dasar-dasar nilai dan tujuan hidup

Kesepuluh gambaran mutu "ARAH KEDEWASAAN IMAN DAN PRIBADI, SEBAGAI PENGIKUT KRISTUS DALAM PERWUJUDANNYA MELAKSANAKAN KERAJAAN ALLAH" kiranya dapatlah mendorong kita untuk maju dan bertekun dalam panggilan hidup sebagai pengikut Kristus.
Manakah yang belum kita miliki ?